mengantar penyemai benih pertiwi pagi tadi kau kuantar kembali ke ladang cangkulanmu tempat menyemai benih di bumi pertiwi di bawah rinai dan rintik hujan membelah kabut menyusuri aspal jalanan basah sisa hujan semalam menggelinding dalam dingin di antara deru dan lalu lalang memburu waktu berselancar di antara angin dan asap polusi sudah menanti di sana hamparan ladang bestari menghijau benih perlu disiangi dan disirami
*nyanyian penantian* senada takdir di bawah langit senja bernuansa jingga sebelum awal malam hening menyelinap bersama pekik burung balam tercium aroma sengit menutup cakrawala semesta kidungkan sekeping luka hembus angin menyentuh kering lantas menoreh lagi segaris jejas embunpun terpercik merah menderas bersama basah keringat, kuhirup namamu : penantian penantianku atas siluet kekasih yang masih saja terpampang di dinding malam menjelaga di setiap sudutnya tembang duka terus saja terngiang mendukakan asa yang belum jelang akan sebuah persenyawaan raga dan sukma dengan puisi jiwa kuukir namamu : penantian
Komentar
Posting Komentar